..
Tangis Perlawanan Kaum Mama Melawan Petugas Eksekusi
Alat berat meruntuhkan bangunan permanen di lahan eksekusi yang sempat mendapat perlawanan dari warga

Tangis Perlawanan Kaum Mama Melawan Petugas Eksekusi

BANYUWANGI - Tangis Zaenab terus meledak - ledak. Tangan perempuan berhijab itu mencengkram kuat jeruji kawat bangunan semi permanen yang berlokasi di Jalan Kepiting, Kelurahan Tukang Kayu, Kecamatan Banyuwangi. Pemilik Warung Pojok itu terus menangis agar para aparat dan petugas eksekusi punya hati.

"Rumah ini saya beli, kok disuruh pindah dan mau digusur apa saya ini binatang," kecamnya sembari terus menangis.

Zaenab, menurut Iriani, merupakan tetua di sekitar perkampungan yang Rabu (13/11/2019) dieksekusi oleh Pengadilan Negeri Banyuwangi. Tangis yang meledak - ledak merupakan ekspresi perjuangan kaum Mama agar rumahnya tak dibuldoser.

"Ada warga yang mendapat kompensasi dari pihak pemenang sehingga bersedia pindah lebih dulu. Lha kami tidak pernah mendapatkan itu. Ditemui terus diajak bicara juga tidak," tutur Iriani di Warung Pojok.

Berdasarkan cerita Iriani, dulu dirinya membeli satu petak lahan ukuran 13x20 Rp 60 juta. Warga yang lain mendapatkan lahan dengan harga yang nilainya berbeda.

"Bukti pembeliannya berupa kuitansi dan petok," ungkapnya.

Eksekusi yang digelar PN Banyuwangi dengan bantuan pengamanan aparat Kepolisian Resor Banyuwangi plus Brimob Polda Jatim tak berjalan mudah. Warga yang bertahan melakukan perlawanan dengan melempari alat berat yang hendak meratakan bangunan dengan telur busuk, kotoran sapi, serta batu.

IMG-20191113-WA0021

Petugas pun mundur. Begitupun dua eskavator yang semula melaju gagah, mundur teratur karena dihadang massa. Kaca depan alat berat tersebut pecah. Pakaian operator bego penuh bekas kotoran sapi dan telur busuk.

"Warga sini tak ada masalah. Kalau bangunan pojok dihancurkan lebih dulu, kami siap digusur," ucap salah seorang warga.

Bangunan pojok yang dimaksud warga adalah Seafood Sobo. Informasi yang terangkum dari massa yang menolak eksekusi, bangunan itu telah dibayari pemohon eksekusi sehingga tidak masuk titik bangunan yang diratakan. Ini yang kemudian pengosongan lahan dan bangunan berjalan alot.

Lantaran terus mendapat penolakan, rumah makan itu akhirnya dikosongkan. Perabot rumah makan di tepi Jalan Kepiting tersebut diangkut menggunakan truk. Papan nama warung bahkan dirobohkan dengan bego.

Lahan yang dieksekusi itu, menurut petugas jurusita PN Banyuwangi, Sunardi, seluas 1,2 hektar. Di atasnya berdiri 45 bangunan permanen. Belasan bangunan sudah ditinggalkan oleh pemiliknya sebelum eksekusi Rabu (13/11/2019).

"Sudah pernah kita lakukan langkah eksekusi. Eksekusi kala itu batal dibacakan karena mendapat perlawanan warga. Namun beberapa warga bersedia pindah dengan sendirinya pascaeksekusi pertama," jelasnya. SUBAHRODIN YUSUF

Sebelumnya Wagub Cok Ace Sambut Baik Asia Traditional Orchestra
Selanjutnya Wagub Cok Ace Minta Para Kontingen Jaga Rasa “Menyama Braya”