..
Pulang dari China, Mahasiswa Asal Banyuwangi Menghadapi Masalah Baru

Pulang dari China, Mahasiswa Asal Banyuwangi Menghadapi Masalah Baru

BANYUWANGI - 23 pelajar asal Banyuwangi yang belajar di China memang sudah pulang ke Tanah Air dengan selamat dan lancar. Namun beberapa diantara mereka kini menghadapi masalah baru, yakni pembulian.

Halimatus Sakdiyah (19), mengisahkannya usai menjalani pendataan dan cek medis dari petugas Dinas Kesehatan Banyuwangi di Kampus Desi Education Centre di Jalan Jaksa Agung Soeprapto, Rabu (12/2/2020). Mahasiswi asal Kelurahan Kebalenan, Kecamatan Banyuwangi ini mengaku mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari kerabat, kawan maupun tetangganya sendiri. Misalnya, mereka mempersoalkan kenapa dirinya tidak menjalani karantina di Natuna, Kepulauan Riau, terlebih dulu.

"Banyak warga bilang kenapa tidak ke Natuna dulu, kok langsung ke rumah. Saya jelaskan yang di Natuna khusus dari Wuhan, sementara saya tinggal di Nanjing," tuturnya.

IMG-20200212-WA0011_1

Lagi pula, tidak mudah baginya dan kawan - kawan untuk menginjakkan kaki di Banyuwangi. Sejak dari China, Thailand dan Jakarta selalu menjalani pemeriksaan yang ketat melalui thermal scanner. Dan mereka harus merogoh kocek pribadi agar tiba di kota kelahiran berjuluk The Sunrise of Java.

"Warga meminta saya cek kesehatan dulu. Walau itu mungkin bercanda, namun syok. Bukannya didukung malah justru disudutkan," sesalnya.

Mahasiswi yang punya panggilan Tutus ini pun meminta warga tidak setengah - setengah menerima informasi dari media soal virus corona. Dirinya meyakini virus itu tidak akan menyerang dirinya dan kawan-kawan.

"Insya Alloh kami sudah kebal. Pertengahan Maret 2020 mau balik ke China untuk melanjutkan kuliah," sambungnya.

Desi Putri (22), contoh kedua mahasiswa asal Banyuwangi yang belajar di China yang menjadi korban pembulian soal corona. Ada petugas kesehatan yang bilang ke warga agar hati - hati karena dirinya dianggap membawa virus. Padahal dirinya pulang dua minggu sebelum virus corona menyebar.

"Warga justru menerangkan balik jika saya datang sebelum virus corona menyebar di Tiongkok," kisahnya.

Tekanan batin itu belum berhenti. Datang petugas medis ke kediamannya di Desa Wonosobo, Kecamatan Srono, mengenakan masker serta alat pelindung kesehatan lengkap. Itu membuat keluarga besarnya kaget.

"Petugas bilang hanya menjalankan pendataan dan pengecekan. Akhirnya Mama mempersilahkan," pungkas mahasiswi yang tinggal 900 kilometer dari Kota Wuhan, tempat virus corona menyebar pertama kali.

IMG-20200212-WA0012_1

Kepala Seksi Surveilen dan Imunisasi Dinas Kesehatan Banyuwangi, Hadi Sutoyo, menjelaskan apa yang dilakukan tim medis hanyalah melakukan standar operasional prosedur (SOP). Karena kepulangan 23 mahasiswa asal Banyuwangi di China tiba-tiba sudah berada Tanah Air.

"Kita cuma mendata dan melakukan cek medis sampai empat belas hari pascakedatangan dari China. Sejauh ini hasilnya negatif," jelasnya.

Apabila dua pekan setelah pengawasan tetap dinyatakan negatif maka akan dihentikan. Hadi meminta masyarakat tidak cemas karena kepulangan mahasiswa asal Banyuwangi dari China. Sebab belum ada kasus suspek corona di kota ini.

"Kita mengajari masyarakat untuk hidup bersih. Kita sudah melakukan koordinasi, sosialisasi dengan berbagai pihak untuk menghadapi corona," jelasnya.

Data Dinkes Banyuwangi, ada 27 orang mahasiswa yang pulang dari Tiongkok. Kebetulan 23 orang ditampung di Desi Education Centre. Untuk 4 lainnya di lokasi lain. SUBAHRODIN YUSUF

Sebelumnya Ali Ruchi - dr Taufik Penuhi Panggilan Partai Demokrat
Selanjutnya Dititipin Teman Sabu di Kos, Pemuda ini Pasrah Diadili