..
Pernah Baiat Paham Radikal, Begini Pesan Ustaz Ali Firdaus

Pernah Baiat Paham Radikal, Begini Pesan Ustaz Ali Firdaus

BANYUWANGI - Penganut paham radikal ternyata ada di Banyuwangi dan Jember. Fakta ini diungkap oleh Ustaz Ali Firdaus.

"Banyuwangi dan Jember ada basis penganut paham radikalisme. Anak salaman sama ibu dan bapaknya pakai satir dengan dalil tidak sah," ungkapnya Senin (5/4/2021).

Paham radikal, menurut Ali Firdaus, mudah tumbuh subur di area kampus. Salah satu penganut paham radikal yang dia ketahui pernah belajar di universitas  terkemuka di Jember.

"Mana ada orang tua salaman dengan anaknya tidak sah. Ibunya sampai nangis - nangis," kisahnya sembari menyebut sebuah kelurahan di Kecamatan Banyuwangi.

Ali Firdaus mengaku pernah terpapar paham radikal. Pernah dirinya menjalani pembaiatan di Cianjur, Jawa Barat sekitar periode 1993 - 1994 silam. Pembaiatan digelar pukul 24.00 WIB, di tepi kolam renang sebuah villa.

"Tugas saya setelah dibaiat harus mencari 10 orang untuk dicuci otaknya. Saya sempat bertanya soal mukodimah baiat kok isinya tidak sesuai dengan hati dan pelajaran agama yang saya dalami," ujar Ali saat menjadi narasumber tunggal dalam Seminar Ketahanan Keluarga di DPD Golkar Banyuwangi.

"Ngapain saya dibaiat oleh imam yang nggak ngerti soal asbabul nuzul. Saya bertanya kok dijawab pokoke, jelas nggak masuk," tuturnya.

Dalam baiat, lanjut Ali, dirinya harus mengucapkan janji akan patuh dan mengikuti perintah imam yang dibaiat baik hidup maupun mati. Setelah itu disuruh menceburkan diri ke kolam dengan alasan untuk penyucian diri.

"Satu minggu sekali 10 orang dikumpulkan di lokasi, jika terlambat didenda Rp 100 ribu. Waktu itu yang disasar sebagai anggota baru banyak dari kalangan PRT. Takjir atau pencucian dosanya para PRT diminta membawa harta majikannya ke lokasi pembaiatan. PRT disuruh bawa televisi majikannya. Pekerja pabrik ngutil kardus perusahaannya," imbuhnya.

Cara menangkal paham radikal, menurut Ustaz Ali, paling efektif adalah lingkungan keluarga. Sebab itu orang tua diminta memuliakan anak dari sisi panggilan nama maupun pendidikannya.

"Panggil anak yang baik. Sayang ayo ngaji, ayo nak mandi. Selama anak tertib salat, salat itu akan menjaga anak dari paham radikal," papar dosen sebuah perguruan tinggi  di Banyuwangi dan Jember.

Keluarga, diakui Ketua DPD Golkar Banyuwangi, Ruliyono, sangat potensial untuk menjaga anak dari paham radikalisme serta sikap intoleran dan aksi terorisme. Makanya Golkar Banyuwangi menggelar Seminar Ketahanan Keluarga mengulik soal peran orang tua dalam menangkal radikalisme yang diikuti para kader, pengurus harian sampai pengurus kecamatan secara daring maupun luring.

"Anak muda mati dengan meledakkan diri kan konyol," tukas Ruli.

Kader beringin agar terdepan dalam menangkal radikalisme, terorisme dan intoleran. Karena seminar ini yang pertama di Banyuwangi. Harapannya tidak hanya Golkar yang menggelar. Tapi parpol lain dapat mengadakan acara serupa.

"Jadikan tangan di atas, jangan suka tangan di bawah," pesannya. SUBAHRODIN YUSUF 

Sebelumnya Wagub Cok Ace : Vaksinasi Tiga Kawasan Zona Hijau Dekati Seratus Persen
Selanjutnya Dukung Pariwisata Berbasis Free Covid Corridor, GIBB Lakukan Vaksinasi