..
Pentaskan Ludruk,  Cara Sumail Abdullah Persatukan Rakyat
Anggota Komisi XI DPPRI H Sumail Abdullah berjoget bersama para pesinden Ludruk Sinar Famili

Pentaskan Ludruk, Cara Sumail Abdullah Persatukan Rakyat

BANYUWANGI – Ludruk termasuk salah satu teater konvensional asal Jawa Timur yang keberadaannya nyaris tenggelam ditelan jaman. Hiburan rakyat  ini, di masa jayanya sebelum masa 1980-an, selalu dipadati penonton. Di era serba digital seperti sekarang perjuangan ludruk agar tetap eksis harus bersaing dengan dunia game online serta tayangan sinetron.

Tantangan itu juga dihadapi Ludruk Sinar Famili asal Desa Tanjung Agel, Kecamatan Jangkar, Kecamatan Situbondo, Jawa Timur. Berdiri sejak 1960, seni tradisi yang lahir di kawasan Kota Santri ujung selatan ini telah eksis selama tiga generasi. Mulai ditangani Misnamo (1960-1965), dilanjutkan oleh Ali (1965 – 1988), dan berpindah ke tangan Busairi (1988 – sekarang), jatuh bangun mengelola kesenian ludruk terasa berat.

“Selera penonton era sekarang suka cerita cinta. Makanya kami selalu menonjolkan unsur percintaan di semua pementasan. Kalau kurang kisah cintanya penonton bosen dan berlalu pergi walau pertunjukkan baru dimulai,” kisah Busairi.

Sebagai pengelola Ludruk Sinar Famili generasi ketiga, lelaki berkumis lebat ini juga sangat mempertahankan unsur kelucuan pemain dagelan. Karena hanya dengan dua cara itulah ludruk yang kini dia tangani tetap bisa digemari warga terutama suku Madura.

“Tiap dua tahun sekali lukisan ornamen tonil kita perbarui. Cat yang mulai pudar supaya tampak lebih cerah dan indah. Kadang lukisannya kita sesuaikan dengan cerita yang dominan mengambil cerita kerajaan yang ditambahi nukilan cerita sinetron yang lagi hits,” ulasnya sebelum pementasan di Desa Watukebo, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi.

Penentuan cerita tidak bisa ditentukan berdasarkan pesanan pengundang. Penentuan lakon, menurut Muhammad Toriq Kurniawan (49), akan dijatuhkan ketika para pemain telah berkumpul di tempat rias jelang pementasan. Itu berlaku pula pada Jumat (16/8/2019) malam di Desa Watukebo, Kecamatan Wongsorejo, saat acara selamatan arena serbaguna milik anggota Komisi XI DPRRI H Sumail Abdullah plus perayaan HUT RI ke-74.

“Pilihan cerita yang akan kita mainkan tergantung kemauan pemain. Setelah seluruh pemeran tiba baru kita bahas. Ketika lakon sudah disepakati, baru saya beberkan mengenai adegan tiap babaknya,” ujar mantan pemain ludruk yang sekarang menjadi sutradara.

sumail_1

Dari cara itu, para pemain melakonkan cerita ludruk tidak berdasarkan skenario yang tertulis. Mereka hanya mengandalkan improvisasi dan hafalan mengenai cerita yang mesti diperankan. Kekompakan para pemain di atas tonil pernah membawa Ludruk Sinar Famili sebagai jawara festival seni tradisi di Madura, Malang dan Pasuruan.

“Juara di Malang tahun 2012. Lalu di Madura pada 2013. Terakhir jawara di Pandaan, Pasuruan,” tambah lelaki yang sudah 20 tahun menjadi penata lakon ludruk.

Untuk sekali pementasan, para pengundang dari luar kota semisal Banyuwangi utara harus merogoh kocek Rp 15-17 juta. Semua tergantung lokasi. Semakin jauh dari Jangkar otomatis biaya pagelarannya bakal melonjak. Itu semua karena disesuaikan dengan honor pemain, pengrawit gamelan, dan pesinden.

“Honor paling murah penari Rp 100 ribu. Pemain, pesiden serta penabuh gamelan dibayar Rp 125 – 500 ribu sekali pentas,” lanjut Toriq.

Nasib kesenian ludruk yang mulai memudar di kalangan warga Jawa Timur mendorong H Sumail Abdullah menampilkannya di tanah kelahirannya sendiri. Anggota parlemen yang berkantor di Senayan, Jakarta, ini seolah menangkap jeritan hati para pemain ludruk yang harus berjuang keras agar dapur keluarganya tetap mengepul.

“Banyak pesan moral yang disampaikan dalam pementasan ludruk. Sentilan humornya mengandung pesan terselubung yang bisa menjadi nasehat bijak. Karena itu saya merasa berkewajiban untuk melestarikan,” ungkap anggora DPRRI asli Desa Watukebo, Kecamatan Wongsorejo.

sumail_2

Ludruk sebagai tontonan tradisi dianggap sangat merakyat. Seni pertunjukkan yang pentas berpindah-pindah ini mampu menyatukan warga dari berbagai latar belakang suku, kelompok maupun perbedaan pilihan politik. Ini sangat disadari oleh Sumail Abdullah untuk merajut kerukunan, persatuan dan kesatuan antar anak bangsa pascapemilu 2019.

“Pemilu sudah usai, Pak Jokowi dan Pak Prabowo telah bersatu. Jangan lagi ada perpecahan gara-gara beda saluran politik. Karena politik itu tak ubahnya tontonan ludruk yang ceritanya bisa berubah-ubah,” pesan anggota DPRRI yang melenggang ke Senayan untuk periode kedua.

Tak hanya bicara. Sumail pun naik panggung dan menari bersama para pesinden ludruk. Kedua tangannya digerakkan seiiring alunan tabuh gamelan di bawah pentas. Berulangkali tangannya mengulurkan beberapa lembar uang kertas kepada para pesiden yang berjoget bersamanya sebagai saweran penghormatan.  SUBAHRODIN YUSUF

 

Sebelumnya Mahkamah Partai Nasdem "Adili" Dr. Somvir pada 18 Agustus
Selanjutnya Arti Merdeka Napi LP Banyuwangi : Antara Remisi Atau Lapas Pengganti