..
Pelda KKO Ven Kandou Tutup Usia, Pengangkat Jenazah Para Jenderal Sempat Minta Dibelikan  Rujak

Pelda KKO Ven Kandou Tutup Usia, Pengangkat Jenazah Para Jenderal Sempat Minta Dibelikan Rujak

BANYUWANGI - Indonesia kehilangan pelaku sejarah kekejaman G30S PKI. Everthad Julius Ven Kandou, satu dari 9 personil Korps Komando Angkatan Laut (KKO-AL, sekarang Marinir) yang mengangkat jenazah 7 jenderal dari Lubang Buaya, tutup usia.

Purnawirawan pasukan elit TNI AL dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan Dua (Pelda) itu mengembuskan nafas terakhirnya di RS Al Huda Genteng, Banyuwangi, Jawa Timur, pada Jumat (4/9/2020), sekitar pukul 15.20 WIB. Sebelum meninggal pensiunan prajurit kelahiran Kebumen 18 Mei 1937 ini sempat menitipkan pesan terakhirnya.

"Papa sudah capek. Papa sayang kalian semua. Kalian baik - baik saja ya," kata Laksmariyon Moll Kandou, putra almarhum, menirukan ucapan ayahnya.

Pesan terakhir itu diucapkan Pelda Kandou pada Rabu dini hari (2/9/2020), dalam kondisi terbaring di atas ranjang ruang ICU RS Al Huda Genteng. Di bagian hidung masih terpasang alat bantu pernapasan.

IMG_20200905_080750

Inmemoriam : Ven Kandou bersama Soegimin, kawan sejawat di KKO yang sama - sama menjalankan tugas mengangkat jenazah para jenderal di Lubang Buaya 

Dikisahkan Laksmariyon, usai menyampaikan pesan terakhir, ayahnya kehilangan kesadaran. Sebelum koma, Ven Kandou sempat meminta dibelikan rujak lontong. Keluarga sempat menolak dengan alasan kesehatan. Meski demikian papanya bersikukuh untuk dibelikan.

"Akhirnya dibelikan oleh kakak. Dimakan cuman satu suapan lebih sedikit saja," katanya.

Menurut Laksmarion, Jumat (28/8/2020) lalu atau sepekan sebelum wafat, kondisi kesehatan sang ayah menurun. Padahal tiga hari sebelum itu baru saja keluar dari rumah sakit usai menjalani perawatan selama beberapa hari.

Saat dilakukan cek darah rupanya trombosit menurun. Dua hari pihak keluarga hanya memberikan asupan vitamin berupa jus jambu.

Senin (31/8/2020), kondisi Ven Kandou kian memburuk. Trombositnya kian menurun. Kaki dan tangannya tidak lagi dapat digerakkan. Sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Sampai akhirnya, Korps Marinir berduka. Selamat jalan Pak Kandou. SUBAHRODIN YUSUF

Sebelumnya Pariwisata Tutup, Bali Alami Kerugian hingga Rp 9,7 Triliun
Selanjutnya Kantor BNN "Diserbu" Para Pencari Surat Bebas Narkotika