..
Mengunjungi Pantai Grand Watudodol, Melihat Panen Budidaya Lobster
Ketua Pokmaswas Pesona Bahari GWD memperlihatkan lobster jenis bambu yang baru dipanen dengan bobot lebih 1 kilogram

Mengunjungi Pantai Grand Watudodol, Melihat Panen Budidaya Lobster

BANYUWANGI - Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Pesona Bahari Grand Watudodol (GWD) berhasil mengembangkan budidaya lobster di perairan GWD. Sabtu (24/10/2020), Pokmaswas yang bermarkas di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur ini menggelar panen raya.

Panen ini, kata Ketua Pokmaswas Pesona Bahari GWD, Abdul Azis, merupakan yang perdana sejak kelompoknya diberi mandat sebagai percontohan budidaya lobster nasional oleh Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan Gondol, Bali dan Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Banyuwangi, Jawatimur.

"Kurang lebih 1000 ekor lobster jenis pasir dipanen setelah menjalani pemiaraan selama 3,5 bulan. Disamping lobster pasir kami juga memanen 50 ekor lobster jenis mutiara," jelasnya.

Tehnik budidaya yang diterapkan menggunakan keramba yang dibenamkan di dasar laut di kedalaman 10 - 12 meter.  Tiga bulan lalu, benih lobster itu baru berukuran 0,5 - 1 ons. Saat dipanen bobotnya dikisaran 2 - 3 ons. Malah ada yang 1 kilogram lebih.

"Kalau budidaya keramba apung karapas bawah lobster berwarna putih. Kalau keramba dasar laut lobster yang dipanen mirip di alam liar," ungkapnya.

Lobster hasil panen Pokmaswas Pesona Bahari GWD untuk memenuhi pasar ekspor. Menurut Hasan, salah satu perwakilan eksportir, lobster yang dikirim ke luar negeri biasanya untuk memenuhi permintaan dari Singapura, Vietnam, China dan Hongkong.

"Untuk lobster pasir yang bisa diekspor ukuran 1,55 kilogram. Tapi saat ini harga lobster sedang turun. Per hari ini harga lobster mutiara Rp 1,1 juta. Sebelum corona bisa Rp 1,5 juta," akunya saat melihat panen raya lobster di Pantai GWD.

Kepala Pusat Pelatihan Penyuluhan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Lilik Aprilia Pregiwati mengatakan, sektor perikanan tidak boleh mengalami keterpurukan karena menjadi kebutuhan primer masyarakat. Apalagi di tengah pandemi banyak masyarakat yang berdiam di rumah.

"Sejak 2017 kami sudah melakukan penyuluhan percontohan di Indonesia. Tahun ini ada 12 termasuk Banyuwangi," ungkapnya.

Atas keberhasilan Pokmaswas Pesona Bahari GWD, Lilik turun langsung ke Banyuwangi. Selain menyaksikan panen raya lobster, dia juga melepas liarkan 1000 ekor benih kerapu sanu dan 25 ekor induk lobster jenis pasir di bibir Selat Bali.

Sedikit gambaran, lokasi budidaya lobster berada di kawasan obyek wisata GWD. Di sini juga menjadi kawasan konservasi terumbu karang yang sekarang alam bawah lautnya menjadi salah satu andalan pariwisata GWD sehingga menyumbang Pendapatan Asli Daerah sekitar Rp 850 juta pada 2019.

Padahal, dulu area ini kerap menjadi sasaran pengeboman ikan oleh nelayan. Sehingga terumbu karang rusak dan alam bawah lautnya rusak. Kini, pariwisata dan pengembangan sektor perikanan berjalan sejalan. SUBAHRODIN YUSUF

Sebelumnya Update Covid-19 di Bali
Selanjutnya Kejati Bali Masih Tunggu Keputusan Kejagung Soal Aset Tri Nugroho