..
 Belajar Otodidak Sampai Dikontrak Perusahaan Swasta
Ahmad Mustofa alias Cak Mus ketika menjadi tutor dalam Pelatihan Pembuatan Media Transplantasi Karang di BPPP Banyuwangi

Belajar Otodidak Sampai Dikontrak Perusahaan Swasta

BANYUWANGI - Transplantasi karang merupakan cara menjaga dunia bawah laut agar tetap terjaga. Sejak 1998, Ahmad Mustofa (44), telah menekuninya secara otodidak.

Perjalanan panjang pria yang akrab disapa Cak Mus dalam dunia konservasi dimulai dari lokasi tinggalnya, di pesisir Pantai Klopoan yang sekarang beralih nama menjadi Grand Watudodol (GWD). Secara geografis, Pantai GWD masuk wilayah Dusun Paras Putih, Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Di wilayah ini, menangkap ikan menggunakan alat tak ramah lingkungan sudah umum kala itu.

Tinggal di sekitar pesisir membuat mata Ahmad Mustofa sering menjumpai potongan karang yang berserakan di sekitar pantai. Sepanjang kakinya melangkah di pasir pantai nyaris tak bisa dihindarkan dari potongan karang yang hanyut terbawa ombak.

Dari situlah kemudian nelayan yang tinggal di bibir Selat Bali ini mulai berpikir apakah terumbu karang yang rusak itu dapat diperbaiki. Atau mungkinkah karang - karang itu dapat tumbuh secara alami seperti sedia kala secara cepat.

"Pertama kali lihat orang sedang memotong karang kemudian memasangnya pada media khusus. Lalu karang yang telah terpasang dibenamkan ke laut. Dari situ saya belajar," kisahnya.

IMG_20210902_124230

Kemampuan Ahmad Mustofa bertambah setelah mendapat pekerjaan dari perusahaan swasta di Bali. Tugasnya adalah melakukan transplantasi karang di Pulau Serangan.

Dari Bali, ilmunya terus diasah di Sulawesi Selatan. Di Kabupaten Mamuju, Cak Mus terus melakoni penanaman terumbu karang. Berbagai jenis karang lengkap dengan sifat serta karakteristiknya telah dipelajari agar bisa hidup di perairan.

"Acropora dan soft coral merupakan dua jenis karang yang mudah tumbuh dalam proses transplantasi. Makanya kami sering menggunakannya untuk program konservasi karang," cetus Cak Mus.

Potongan karang sepanjang 5 centimeter akan tumbuh dua kali lipat setelah 3 bulan. Tentu saja karang yang baru ditanam tidak akan tumbuh sendirinya tanpa perawatan. Dalam seminggu, menurut Cak Mus, setidaknya dua kali harus diperiksa oleh tim.

"Karang itu harus dipantau terus, jangan sampai mati. Terumbu karang bisa rusak bisa disebabkan pengeboman dan ditempeli keong laut," ulasnya.

IMG-20210902-WA0022

Karang yang ditransplantasi pada media tidak boleh tertutup sampah. Utamanya sampah plastik karena dapat menimbulkan kematian. Baik itu plastik bening maupun berwarna gelap. Makanya karang yang baru ditanam di dasar laut harus rutin dibersihkan.

"Plastik dapat berlumut dan menghambat sinar matahari menyinari karang, lalu mati. Siput laut yang menempel di terumbu karang menyebabkan karang memutih dan mati pula. Ini wajib dibersihkan," terang pengurus Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Pesona Bahari GWD.

Praktik transplantasi karang yang ditekuninya 20 tahun silam terus dikembangkan di Pantai GWD seiring perkembangan kawasan ini menjadi destinasi wisata di Banyuwangi. Kamis (2/8/2021), Ahmad Mustofa menelurkan pengalamannya itu kepada pegiat lingkungan kawasan pesisir dari berbagai wilayah di Indonesia lewat Pelatihan Pembuatan Media Transplantasi Karang secara daring. Acara ini diinisiasi oleh Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Banyuwangi. SUBAHRODIN YUSUF 

Sebelumnya Komplotan Pemalsu Surat Rapid Test Antigen Dibekuk
Selanjutnya Buat Paket Sabu Dibakut Semen, Pemandu Surfing ini Dituntut 14 Tahun