..
Di Banyuwangi 2 Petugas Pemungutan Suara Gugur
Keluarga Nanang Subiyanto nyekar di makam ketua KPPS TPS 28 Kelurahan Tukangkayu, Kecamatan Banyuwangi.

Di Banyuwangi 2 Petugas Pemungutan Suara Gugur

BANYUWANGI - Dua petugas pemungutan suara meninggal dunia di Banyuwangi, Jawa Timur. Catatan Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat, dua orang yang meninggal dunia itu adalah ketua KPPS dan satu petugas Linmas.

Selain itu, 8 orang masih dirawat di rumah sakit karena karena kelelahan. Identitas dua orang yang meninggal dunia adalah Ketua KPPS TPS 28, Nanang Subiyanto (55), warga Kelurahan Tukangkayu, Kecamatan Banyuwangi dan Miseni, anggota Linmas TPS 06 Desa Sidodadi, Kecamatan Wongsorejo.

"Memang benar. Sesuai dengan data yang kita dapatkan ada 2 orang petugas yang meninggal dunia dan 8 orang yang masih dirawat," ujar Edy Syaiful Anwar, Komisioner KPU Banyuwangi, Rabu (24/4/2019). 

Menurut Edy, dugaan sementara petugas yang meninggal dunia dan petugas yang masih dirawat di rumah sakit karena kelelahan. Hal ini dikarenakan beban kerja yang berat. 

"Mereka kerja keras selama 5 hari. Mulai dari persiapan pembuatan TPS, pemungutan dan penghitungan suara hingga rekapitulasi di Kelurahan atau desa," tambahnya. 

Untuk para pahlawan demokrasi ini, kata Edy, saat ini KPU Banyuwangi masih melakukan pendataan. Data tersebut akan diserahkan kepada KPU Provinsi Jawa Timur dan KPU Pusat untuk pemberian santunan. 

"Santunan dari KPU Banyuwangi belum ada. Sementara pakai uang pribadi. Saat ini kita lakukan pendataan untuk pengajuan santunan ke KPU Provinsi dan Pusat," katanya.

Nanang Subiyanto (55), meninggal dunia diduga karena serangan jantung. Korban menghembuskan nafas terakhir di rumahnya, sekira pukul 12.00 WIB, Selasa (22/4/2019). Jenazah sudah dikebumikan pada sore harinya.

Juhariyah (54), istri Nanang Subiyanto mengaku kematian suaminya sangat mengejutkan seluruh keluarga. Sebab suaminya tak pernah mengeluhkan sakit. Saat itu, suaminya hanya mengaku capek setelah menjadi petugas KPPS.

"Saat itu istirahat di kamar. Waktu akan meninggal itu kedip-kedip saja terus tidak sadarkan diri," kisahnya.

Untuk memastikan kondisi sang suami, lanjut Juhariyah, keluarga kemudian membawanya ke rumah sakit. Namun sayang, belum sempat ditangani dengan intensif, nyawa suaminya tak bisa di tolong.

"Kata dokter serangan jantung. Sempat kita bawa ke Rumah Sakit Fatimah," tambahnya.

Diakui Juhariyah, aktivitas suaminya sebelum dan sesudah pemilu sangat tinggi. Mulai dari persiapan pembuatan TPS, pemungutan dan penghitungan suara hingga pelaporan ke kelurahan dilakukannya dengan kerja ekstra.

"Bapak tidak pernah sambat. Semua dilakukan sendiri. Bahkan saat penghitungan tidak mau diganti. Malah saat mengirim kotak dan surat suara mobilnya disopiri sendiri. Anggota lain juga menyertai ke kelurahan," tambahnya. SUBAHRODIN YUSUF

Sebelumnya Kosumsi Sabu, Seorang Guide Freland ini Diadili
Selanjutnya Ketua Askab : Kehadiran TP4D Bak Surga